Rabu, 19 Februari 2014

Belajar Berbisnis dan Pengalaman Pribadi


          A  Bisnis. Mendengar kata itu apa yang terbesit dalam pikiran anda? Jika saya mendengar kata-kata itu yang terpikirkan oleh saya adalah berjualan atau usaha yAang menghasilkan keuntungan yaitu uang. Itu hanya pemikiran saya saja mungkin untuk anda yang lebih mengerti dan menggeluti bisnis pasti definisi bisnis bagi anda tak hanya itu dan dengan tujuan yang beragam, benar bukan? Saya menulis artikel ini bukan untuk memberikan informasi bagaimana cara atau tips dan trik menjadi pebisnis tetapi saya hanya ingin menceritakan pengalaman saya yang pernah berbisnis di usia saya yang muda ini.
            Sebenarnya bisnis itu mudah jika ditekuni dengan baik dan menjadi penghasilan tambahan bahkan penghasilan utama bagi beberapa orang tetapi menjadi pebisnis juga memerlukan mental yang kuat dalam menjalankannya. Harus berani tidak perlu malu jika kita ingin sungguh2 menjalankan bisnis jangan merasa malu untuk memulai karena sesungguhnya orang sukses adalah berasal dari orang orang yang berani. Selain itu juga harus miliki daya juang yang tinggi jika suatu saat bisnis itu mengalami masalah atau bahkan bangkrut anda tidak boleh menyerah dan harus teguh dalam menjalankannya karena sesungguhnya jika kita ingin maju menjadi lebih baik lagi maka pasti banyak rintangan dan halangannya.
            Saya pernah berbisnis di bidang kuliner pada saat saya masih sekolah kelas 11 SMA saya memang suka dengan memasak dan suka dengan masakan berbahan dasar pasta, saya mencoba untuk menjual hasil masakan saya karena saya melihat peluang di sekolah bahwa teman-teman saya banyak yang bosan dengan makanan yang ada di kantin sekolah, awalnya saya menjual 5 bungkus macaroni panggang dan 5 bungkus spaghetti dan tak disangka hanya dengan promosi ke teman satu meja saya dengan cepat dagangan saya laris manis. Memang ada perasaan malu saat itu di diri saya tetapi saya berfikir kalau saya mal uterus kapan saya berhasil menjual masakan saya? Karena saat itu saya sangai ingin menjadi pebisnis kecil-kecilan di sekolah. Setelah berjalan beberapa bulan saya sering kebanjiran pesanan oleh teman-teman saya tetapi karena saya membawa motor ke sekolah maka kuota yang saya jual juga tidak seberapa.
                        Orang tua saya sangat mendukung kegiatan saya ini selama tidak mengganggu kegiatan dan tugas saya sebagai pelajar disekolah, maka saya dirumah dibantu oleh ibu saya untuk memasak dan menyiapkan segala sesuatu untuk produksi makanan. Keuntungannya kumayan menurut saya sebagai pelajar saya menjadi bias menabung hasil jerih payah sendiri dan sangat bangga akan hasil yang dicapai saat itu. Setelah saya naik kelas ke kelas 12 saya mulai berheni menjual makanan karena saya harus focus ujian nasional, selain itu saya juga pernah berjualan sepatu crocs dan hiasan dinding wall sticker pada kelas 12 karena menjual barang-barang sudah jadi lebih mudah bagi saya juka harus memproduksi sendiri hasilnya saya dapat membeli handphone dengan uang hasil jerih payah sendiri saya sangat bangga saat itu.
            Itulah pengalaman berbisnis saya yang tidak seberapa dengan pebisnis lain tentunya saya berharap artikel ini dapat memotivasi pembaca untuk memulai bisnis dari sekrang karena bisnis itu sangat menarik dan jangan pernah malu untuk memulai bisnis hasilnya juga dapat membanggakan diri sendiri maupun orangtua. Sekian.


Selasa, 18 Februari 2014

Artikel Mengenai Peternakan Sapi Perah

Sentra-sentra baru usaha budidaya sapi perah skala kecil dan menengah di luar Pulau Jawa belakangan ini bermunculan dan makin berkembang meski masih banyak kendala yang menghadang.
Direktur Budidaya Ternak Ruminansia (BTR) Ditjen Peternakan, Fauzi Luthan, dalam pengarahannya sebelum membuka Lokakarya Persusuan Nasional, di Bandung, akhir November lalu, mengemukakan, usaha peternakan sapi perah selama ini telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi peningkatan peternakan dan masyarakat di sekitarnya.

Dengan melaksanakan usaha budidaya sapi perah, peternak bukan hanya memperoleh hasil penjual dari susu segar yang dihasilkan setiap harinya tetapi juga mendapat hasil samping berupa ternak hidup (pedet dan induk afkir) dan kotoran ternak. ”Hasil pedet dan induk afkir ini merupakan kontribusi peternak terhadap penyediaan daging dalam negeri, berarti mereka juga turut mensukseskan program Swasembada Daging tahun 2010,” katanya.

Meski besar perannya dalam mendukung kegiatan perekonomian nasional, menurut Fauzi Luthan, saat ini masih banyak hal di bidang persusuan yang perlu mendapat perhatian. Produksi susu segar dalam negeri kenyataannya baru mampu mensuplai 30 persen dari total kebutuhan susu segar nasional dan 90 persen dari produksi dalam negeri tersebut diserap oleh industri pengolahan susu (IPS) sehingga ketergantungan peternakan sapi perah kepada IPS sangat tinggi.

Kualitas susu dalam negeri belum dapat bersaing dengan produk susu impor diakibatkan oleh banyak hal di antaranya karena keterbatasan sarana (sumber air bersih) dan peralatan yang memenuhi persyaratan hygiene sanitasi, terbatasnya lahan yang memproduksi pakan hijauan terutama di musim kemarau dan mahalnya harga pakan konsentrat. Sebagian besar peternak sapi perah rakyat di Indonesia tergolong berskala usaha kecil sehingga lebih sulit dibina dan diawasi untuk menghasilkan susu yang berkualitas.

Sementara itu konsumsi susu segar masyarakat Indonesia juga masih rendah (rata-rata sekitar 18 ml per hari) mengingat minum susu belum menjadi budaya, harga susu masih dirasakan relatif mahal serta adanya kekhawatiran terhadap masalah lactose intolerance.

Namun demikian, masih banyaknya kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha budidaya sapi perah skala kecil dan menengah ternyata tidak menghalangi berkembangnya sentra-sentra baru sapi perah di luar Pulau Jawa. ”Saat ini tercata ada 7 sentra baru produksi susu antara lain Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Pulau Bali,” jelas Direktur BTR.
Ia melihat kendala yang dihadapi di luar Pulau Jawa berbeda dengan yang dihadapi pada sentra produksi susu di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa dengan kelembagaan yang lebih lengkap (kelompok, koperasi, IPS) rantai tata niaganya cukup panjang sehingga menyebabkan biaya produksi yang lebih tinggi. Ketergantungan kepada IPS juga menyebabkan lemahnya bergaining position peternak.

Dari segi harga jual susu, di Pulau Jawa berdasarkan TPC dengan Total Solid (TS) 12% harga susu dari GKSI yaitu Rp 2.100 per liter, masih jauh dari harga susu yang diterima oleh peternak sapi perah sapi perah di luar Pulau Jawa yang mencapai Rp 3.000 – Rp 4.000 per liter.
Di luar Pulau Jawa pada tingkat populasi ternak tertentu masih belum timbul masalah pemasaran walaupun belum ada IPS. Tetapi disisi lain penerapan teknologi masih perlu ditingkatkan terutama teknologi masih perlu ditingkatkan terutama teknologi pakan dengan memanfaatkan sumberdaya lokal, hygiene dan sanitasi yang baik untuk menghasilkan susu dengan kualitas tinggi serta proses pengolahan susu untuk mempertahankan kualitas sebelum dikonsumsi oleh masyarakat.

Gerakan minum susu di luar Pulau Jawa harus lebih ditingkatkan agar permintaan susu meningkat sehingga peternak setempat lebih bergairah untuk meningkatkan usahanya.

Sesungguhnya masih banyak faktor yang sangat menentukan berkembang tidaknya suatu sentra produksi susu. Untuk itu Fauzi Luthan mengimbau agar seluruh stakeholders bidang persusuan menyatukan tekad dalam memperbaiki kondisi di masing-masing sentra produksi susu agar usaha budidaya sapi perah skala kecil dan menengah dapat berkembang, sehingga pendapatan dan kesejahteraan para peternaknya dapat meningkat.